
Menelusuri sejarah Masjid Agung Banten membawa kita kembali ke abad ke-16, masa di mana pelabuhan pesisir Jawa menjadi pusat perdagangan maritim dunia. Berdiri kokoh di kawasan Banten Lama, Kota Serang, bangunan ikonik ini bukan sekadar peninggalan purbakala yang bisu.
Bagi masyarakat Nusantara, tempat suci ini merepresentasikan sebuah lompatan besar dalam peradaban Islam, menyatukan kekuatan politik, spiritualitas, serta keterbukaan budaya dalam satu kawasan. Kita bisa merasakan atmosfer kejayaan masa lalu yang tetap hidup di setiap jengkal ubin dan dindingnya.
Melacak Asal-Usul Lahirnya Jantung Peradaban Banten
Memahami masa lalu sebuah masjid selalu dimulai dari mengamati bagaimana lingkungan di sekitarnya tumbuh dan berkembang.
Asal usul Masjid Agung Banten sangat erat kaitannya dengan dinamika geopolitik transisi kekuasaan di Pulau Jawa. Pada paruh pertama abad ke-16, pengaruh Kerajaan Hindu Pajajaran di wilayah ujung barat Jawa mulai bergeser seiring pesatnya perkembangan kota-kota pelabuhan Islam yang berorientasi pada perdagangan maritim global.
Kawasan Banten Lama dipilih bukan secara acak. Para penguasa saat itu menerapkan kosmologi perkotaan Islam Jawa yang sangat terstruktur dalam menata ibu kota. Ketika membangun pusat pemerintahan Surosowan, mereka memastikan empat elemen tata ruang absolut harus saling terintegrasi.
Elemen tersebut meliputi istana atau keraton sebagai pusat eksekutif pemerintahan, alun-alun sebagai ruang interaksi sosial rakyat, pasar yang terintegrasi dengan Pelabuhan Karangantu sebagai pusat ekonomi, serta masjid agung sebagai jantung spiritualitas dan yurisprudensi.
Konsep tata kota ini memastikan bahwa aktivitas keagamaan selalu berjalan beriringan dengan urat nadi kehidupan masyarakat sehari-hari.
Titik Nol dan Sosok Mulia di Balik Berdirinya Masjid
Setiap bangunan bersejarah selalu menyimpan cerita tentang visi besar serta otoritas spiritual dari sosok pembuatnya. Catatan sejarah lokal menunjukkan bahwa Masjid Agung Banten didirikan oleh Sultan Maulana Hasanuddin, penguasa pertama Kesultanan Banten yang memerintah dari tahun 1552 hingga 1570 Masehi.
Beliau merupakan putra dari ulama besar Wali Songo, Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah), yang membawa mandat dakwah langsung ke wilayah Banten.
Kisah pendirian ini berakar dari sebuah arahan spiritual yang spesifik. Sunan Gunung Jati meminta putranya untuk mencari sebidang tanah yang dikategorikan masih suci sebagai fondasi utama kerajaan Islam yang baru.
Melalui strategi dakwah dan penaklukan kultural yang damai, Sultan Maulana Hasanuddin berhasil mendirikan bangunan utama masjid ini secara resmi pada tahun 1566 Masehi, yang bertepatan dengan bulan Zulhijjah 966 Hijriah.
Fakta penanggalan ini sangat penting untuk diketahui karena membuktikan bahwa masjid ini berdiri jauh sebelum armada dagang Belanda pertama di bawah pimpinan Cornelis de Houtman menginjakkan kaki di Banten pada tahun 1596.
Kisah Tradisi Lisan Penentuan Arah Kiblat
Ada satu cerita menarik yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Serang mengenai presisi bangunan ini. Menurut tradisi lisan, arah kiblat masjid tidak dihitung menggunakan alat astronomis konvensional, melainkan ditetapkan langsung melalui karomah mistis Sultan Maulana Hasanuddin.
Konon, beliau cukup mengangkat tangannya untuk menyingkap tabir jarak, sehingga Ka’bah yang berada di Mekah bisa terlihat langsung secara metafisik oleh orang-orang yang hadir saat itu.
Bertahun-tahun kemudian, sempat muncul diskusi hangat di kalangan cendekiawan mengenai akurasi matematis arah kiblat ini, namun penghormatan yang mendalam terhadap kharisma Sultan membuat masyarakat secara kolektif bersepakat untuk mempertahankan keaslian arah bangunan tanpa mengubahnya sedikit pun.
Fase Perkembangan Bangunan Lintas Generasi Kesultanan
Sebuah mahakarya tidak selalu selesai dalam satu malam, melainkan tumbuh bersama waktu melalui sumbangsih para penerus kekuasaan.
Struktur bangunan masjid mengalami beberapa tahap perluasan penting yang disesuaikan dengan kebutuhan umat yang terus bertambah dari tahun ke tahun.
a. Penyempurnaan oleh Sultan Maulana Yusuf
Setelah wafatnya Sultan pertama pada tahun 1570 Masehi, tongkat estafet pembangunan dilanjutkan oleh putranya, Sultan Maulana Yusuf. Pada periode ini, area sekitar masjid mulai ditata lebih rapi.
Fondasi bangunan diperkuat agar mampu menampung lebih banyak jamaah yang datang dari berbagai pelosok daerah untuk belajar agama serta melakukan aktivitas perdagangan di pelabuhan.
b. Penambahan Ruang Pawestren untuk Jamaah Perempuan
Masuk ke masa pemerintahan Sultan Maulana Muhammad, sebuah kebijakan inklusif diterapkan dalam arsitektur masjid. Beliau menambahkan bangunan pawestren, yaitu sebuah ruangan khusus di sisi kiri bangunan utama yang didedikasikan sepenuhnya bagi jamaah perempuan untuk beribadah.
Langkah ini menunjukkan betapa tingginya penghormatan kesultanan terhadap kenyamanan dan kesetaraan akses ibadah bagi seluruh lapisan masyarakat saat itu.
Akulturasi Tiga Budaya dalam Satu Mahakarya Arsitektur
Keindahan sejati dari bangunan ini terletak pada keberanian para penguasa zaman dahulu untuk menyerap elemen estetika global terbaik demi melahirkan identitas lokal yang kuat. Kita bisa melihat bagaimana elemen arsitektur Jawa Kuno, Tiongkok, dan Eropa melebur secara harmonis tanpa kehilangan esensi nilai Islam sebagai fondasi utamanya.
1. Fondasi Jawa Kuno dan Enkripsi Filosofis Raden Sepat
Ruang sholat utama masjid ini dirancang oleh Raden Sepat, seorang maestro bangunan legendaris eks-Majapahit yang juga ikut merancang Masjid Agung Demak dan Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon.
Dengan ukuran 25 x 19 meter, ruangan ini ditopang oleh tiang kayu jati kokoh yang berdiri di atas lantai ubin hijau.
Raden Sepat meletakkan detail unik berupa dasar tiang (umpak) yang diukir membentuk buah labu, sebuah simbol visual yang melambangkan surplus pertanian dan kemakmuran pangan Kesultanan Banten pada abad ke-16.
Selain itu, pintu masuk bagian depan sengaja dibuat berjumlah enam buah sebagai simbol Rukun Iman. Pintu-pintu ini didesain sangat rendah dan sempit, memaksa setiap orang yang masuk untuk menundukkan kepala dan membungkuk.
Desain ini memiliki pesan psikologis agar kita meruntuhkan segala keangkuhan duniawi sebelum menghadap Sang Pencipta.
2. Atap Pagoda Karya Cek Ban Cut
Ciri paling mencolok yang membedakan masjid ini dari model Timur Tengah adalah bentuk atapnya yang tidak menggunakan kubah bulat. Bangunan utama dinaungi oleh atap bersusun lima tingkat yang melingkar menyerupai pagoda Tiongkok. Karya monumental ini dirancang oleh seorang arsitek mualaf berdarah Tionghoa asal Mongolia bernama Cek Ban Cut.
Beliau mengubah simbolisme pagoda menjadi sarana dakwah tauhid, di mana lima tingkatan atap tersebut melambangkan lima pilar Rukun Islam. Atas kontribusi besarnya, Sultan menganugerahinya gelar kebangsawanan Pangeran Adiguna atau Kyai Ngabehi Cakradana.
Pengaruh oriental ini juga bisa kita temukan pada model tangga masuk masjid yang mengadopsi motif menyerupai bentuk mulut goa.
3. Paviliun Tiyamah Gaya Kolonial Eropa
Di sisi selatan kompleks, berdiri sebuah paviliun berlantai dua berdenah persegi panjang yang dinamakan Tiyamah. Bangunan ini menampilkan gaya arsitektur kolonial Eropa kuno yang sangat ortogonal dan kaku, namun berdiri berdampingan secara damai dengan bangunan utama.
Arsiteknya adalah Hendrick Lucasz Cardeel, seorang ahli konstruksi asal Belanda yang membelot, memeluk Islam, dan diberi gelar Pangeran Wiraguna.
Fungsi utama Tiyamah bukan untuk memperluas ruang sholat, melainkan sebagai wadah musyawarah bagi para ulama, cendekiawan, dan birokrat kesultanan dalam mendiskusikan kebijakan strategis serta masalah keagamaan.
4. Menara Oktagonal sebagai Mercusuar Spiritual dan Maritim
Berdiri megah di sebelah timur, bangunan menara Masjid Agung Banten merupakan salah satu elemen paling ikonik dari seluruh kompleks. Didirikan pada paruh pertama abad ke-17 di bawah pemerintahan Sultan Abu Nashr Abdul Qahhar (Sultan Haji), menara setinggi 24 hingga 30 meter ini juga dirancang oleh Hendrick Lucasz Cardeel.
Dengan bentuk segi delapan simetris dan diameter bawah mencapai 10 meter, konstruksi tebal berbahan batu karang dan bata merah ini mencerminkan pemahaman mendalam tentang struktur menara masjid yang kokoh pada zamannya.
Pengunjung harus melewati sekitar 82 hingga 83 anak tangga melingkar yang sempit di dalam lorong gelap untuk mencapai puncaknya. Menara ini memiliki fungsi ganda yang sangat praktis pada zamannya.
Pertama, sebagai tempat muazin mengumandangkan azan dengan keuntungan akustik ketinggian agar suaranya terdengar hingga ke wilayah pesisir. Kedua, sebagai menara pengintai maritim atau mercusuar untuk mengawasi pergerakan kapal dagang asing di Teluk Banten yang berjarak hanya 1,5 kilometer dari lokasi masjid.
Ketiga, bagian dasarnya yang tebal secara pragmatis digunakan sebagai gudang aman untuk menyimpan amunisi bubuk mesiu pasukan Kesultanan saat menghadapi ketegangan militer melawan VOC.

Warisan Rohani dan Eksistensi di Era Modern
Nilai sebuah tempat bersejarah tidak pernah pudar selama masyarakat masih terus merawat memori kolektif dan menjadikannya bagian dari kehidupan mereka. Hari ini, kompleks Masjid Agung Banten telah bertransformasi menjadi salah satu pusat wisata religi terbesar di bagian barat Pulau Jawa yang menarik jutaan peziarah setiap tahunnya dari berbagai daerah.
Di sekitar bangunan utama, terdapat kompleks pemakaman massal keluarga kerajaan. Peziarah biasanya memadati area serambi utara untuk mengirimkan doa di makam Sultan Maulana Hasanuddin serta pahlawan nasional Sultan Ageng Tirtayasa yang terkenal dengan perlawanan gigihnya melawan kolonialisme.
Langkah pelestarian pun terus berjalan, termasuk proyek revitalisasi kawasan pelataran timur yang kini dilengkapi dengan lantai marmer berkilau dan deretan payung hidrolik raksasa yang menyerupai suasana di Masjid Nabawi, Madinah. Kehadiran fasilitas modern ini membantu para peziarah terhindar dari panas terik pesisir sambil tetap bisa meresapi nilai sejarah mendalam yang ditinggalkan para pendahulu kita.
Mempertahankan nilai spiritual sekaligus keindahan estetika sebuah masjid, seperti yang dicontohkan oleh para sultan terdahulu, merupakan tanggung jawab kita bersama dalam membangun peradaban masa depan.
Menghadirkan atmosfer yang agung melalui komponen arsitektur berkualitas, mulai dari desain menara yang kokoh hingga kubah yang indah, menjadi langkah nyata kita untuk mengabadikan syiar Islam di era modern ini.
Baca juga: Wajah Baru Masjid Agung Banten ala Kota Madinah dan Sejarah Menara Banten dan Rahasia Arsitekturnya






















